Pendikar (cenderung) gagal?

Memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, ancaman disintegrasi bangsa, mengendurnya nilai-nilai kebangsaan, rusaknya sistem ekonomi, korupsi dalam penyelenggraan Negara dan lain sebagainya merupakan latar belakang pentingnya pembangunan karakter (character building). Sehingga belakangan ini, pendidikan karakter menjadi ramai dibicarakan pada berbagai kesempatan seperti seminar, workshop, dan menjadi berita hangat di berbagai media massa. Mengapa itu terjadi? Seperti kita ketahui bersama, Masyarakat  Indonesia sejak dulu dikenal dengan keramahtamahannya. Sehingga tidak sedikit bangsa lain mengagumi bahkan berkunjung ke Indonesia. Namun mungkin itu cerita klasik yang disampaikan seorang nenek sewaktu menidurkan cucunya, sekarang cerita itu terbantahkan oleh fakta bahwa masyarakat Indonesia tidak seramah dulu. Hal ini cukup beralasan mengingat kini kita dengan mudah menyaksikan tayangan di televisi atau berita di surat kabar yang memberitakan tawuran antar kelompok masyarakat, antar suku, antar pelajar, bahkan antar mahasiswa. Maraknya berita pembunuhan, pemerkosaan, perampokkan, terorisme dan sebagainya. Sebagai seorang pendidik, saya sendiri sering menyaksikan mahasiswa yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai baik, seperti mencontek pada saat ujian, atau menitip absensi pada temannya. Bahkan jika ada sekumpulan mahasiswa mereka memanggil temannya dengan kata-kata yang tidak semestinya disematkan pada manusia, apalagi calon intelektual. Tidak jarang juga kita menyaksikan “tawuran” elit-elit politik dan pejabat publik di media massa. Bahkan suburnya benalu sosial berupa korupsi yang dilakukan penyelenggara Negara di berbagai tingkatan  yang merusak sendi pemerintahan dan menjadi hambatan paling utama bagi pembangunan. Hal ini  tentu saja bertentangan dengan visi pembangunan nasional, yaitu ‘mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila”. Pertanyaanya, Mengapa demikian? Apa yang salah dengan pendidikan kita selama ini? Bagaimana peranan orang tua dan Negara?

Pendidikan dan Pendidikan Karakter

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan secara spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU No.20/2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional). Berdasarkan definisi pendidikan tersebut, tentu kita berharap bahwa melalui pendidikan akan lahir anak-anak bangsa yang dapat berguna bagi dirinya, masyaraktnya serta berguna bagi bangsa dan negaranya.  Hanya melalui pendidikanlah manusia bisa menjadi manusia. Karena melalui pendidikan itulah dilakukan usaha sadar dan terencana bagaimana manusia dikembangkan potensinya. Dengan usaha pengembangan potensi yang dimiliki oleh peserta didik maka akan lahir sumber daya manusia bukan hanya cerdas secara intelektual, emosional juga spiritual, melainkan juga harus menjadi insan handal yang mampu membawa masyarakat Indonesia yang demokratis, bertanggungjawab, taat hukum, sejahtera dan berkeadilan.

Untuk merespon gejala merosotnya kepribadian bangsa (baca: masyarakat Indonesia) yang ditunjukkan oleh maraknya penyakit sosial seperti digambarkan di atas , pemerintah sedang giat-giatnya melakukan upaya untuk membenahi dunia pendidikan yang dianggap paling bertanggungjawab atas merosotnya mentalitas bangsa Indonesia kini. Salah satu upaya tersebut ialah memasukkan pendidikan karakter  sebagai bagian integral dari tiap mata pelajaran. Jika dulu ada anak yang berperilaku menyimpang, maka yang paling gampang adalah menyalahkan guru agama atau guru pendidikan kewarganegaraan, maka sekarang setiap guru dengan kedudukannya sebagai pendidik harus merasa menjadi bagian yang harus bertanggung jawab terhadap pembentukan karakter peserta didiknya. Misalnya saja, guru matematika bukan saja berkewajiban menyampaikan materi berhitung kepada peserta didiknya, ia juga harus mampu menyampaikan nilai apa yang harus dimiliki oleh peserta didiknya setelah belajar matematika, misalnya nilai kejujuran.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah (Sudrajat,2010) untuk apa pendidikan karakter? Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Usaha untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa tentu bukan hanya menjadi tanggungjawab guru mata pelajaran tertentu, melainkan harus terintegrasi ke dalam tiap mata pelajaran. Konsekuensinya tiap guru mata pelajaran apapun harus menyampaikan nilai karakter apa yang harus dimiliki dan terinternalisasi dalam diri peserta didik setelah belajar. Pendidikan karakter jangan sampai hanya menjadi komoditas ranah kognitif saja, sekolah dalam hal ini pendidik mesti menjadi teladan bagi peserta didiknya. Karena apa yang dilakukan gurunya memiliki kecenderungan kuat untuk ditiru oleh peserta didiknya. Usaha lain yang perlu dilakukan di sekolah misalnya, melalui pembiasaan (habituasi) hal-hal baik, mengimplementasikan kurikulum yang humanis, mengadakan kegiatan ekstrakurikuler yang mengimplementasikan nilai-nilai dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik.

Kegagalan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional, tentu bukanlah merupakan tugas pendidik di sekolah saja, namun pengaruh media massa, keluarga dan masyarakat bahkan Negara  juga sangat kuat. Pada tulisan ini saya mencoba mengidentifikasi penyebab kemungkinan gagalnya pendidikan karakter, yaitu: pendidikan karakter bisa gagal karena pertama, di kelas guru hanya melakukan apa yang disebut pengajaran yang inti kegiatannya menstransfer sejumlah konsep, fakta, informasi, dan data yang harus dikuasai oleh peserta didik, sehingga pada gilirannya guru akan membuat soal yang hanya mengukur aspek kognitif (pengetahuan) anak. Dengan model pembelajaran dan alat evaluasi semacam ini peserta didik hanya melakukan aktivitas menghafal konsep, fakta, informasi, dan data yang disampaikan guru di depan kelas untuk dapat menjawab soal ujian. Akibatnya, nilai-nilai yang harusnya dimiliki peserta didik seperti kejujuran, kedisiplinan, iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak tercapai. Padahal kecerdasan intelektual memiliki kontribusi yang tidak begitu besar terhadap kesuksesan manusia. Banyak perusahaan yang memberhentikan karyawan yang cerdas namun curang dalam menjalankan tugasnya. Pada level warga sekolah (tenaga administrasi, teman, kepala sekolah) tidak memberi keteladanan. Kedua, terjadinya disfungsi peranan orang tua. Pada jaman sekarang seiring makin kompleksnya kebutuhan manusia, tidak sedikit orang tua yang hanya memiliki waktu sedikit untuk melakukan peran mendidik anak, banyak orang tua yang sibuk melakukan pekerjaannya, sehingga melepas kewajibannya tersebut kepada pihak sekolah. Akibatnya, anak menjadi kurang kasih sayang dan perhatian orang tua, anak-anak menjadi kehilangan keteladanan orang tua di rumah, sehingga cenderung melakukan tindakan-tindakan kompensantoris seperti tawuran, mengonsumsi obat terlarang, membolos dari sekolah dan sebagainya. Ketiga, pada level negara, dalam hal ini oknum penyelenggara Negara baik di pusat maupun di daerah tidak memberi contoh yang baik bagi terbentuknya karakter yang baik bagi generasi penerus bangsa. Banyaknya kasus korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan penyelenggara Negara membuat generasi muda berfikir pragmatis dan hedonis. Mereka cenderung melakukan peniruan atas apa yang dilakukan oleh pejabat publik. Banyaknya pejabat publik yang hanya pandai bicara di atas mimbar, namun tidak dapat mengimplementasikan pembicaraannya. Hal  sulit untuk membentuk karakter baik bagi generasi muda. Selain itu, tidak tegasnya penegakkan hukum bagi para pelanggar hukum memicu kecenderungan masyarakat yang acuh terhadap pelanggaran hukum sehingga menimbulkan ketidakpercayaan pada penegak dan penegakkan hukum.

Upaya Pemecahan

Agar terbentuknya  karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka, saya menawarkan upaya pemecahannya yaitu: pertama, guru di kelas, tidak hanya menstrasfer pengetahuan. Guru harus mekukan transfer dan trasformasi  sikap, keterampilan dan nilai kepada peserta didik. Selain itu pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru harus bergeser menjadi berpusat pada peserta didik. Metode pembelajaran harus diubah dari ekspositori menjadi inkuri, hafalan konsep, informasi, data dan fakta harus diubah menjadi upaya mengkonstruksi pengetahuan dan menginternalisasikannya (learn to be) pada diri peserta didik sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada level warga sekolah, harus tercipta suasana hubungan yang harmonis dan kekeluargaan antara sesame peserta didik, guru, kepala sekolah, dan tenaga administrasi sehingga menjadi tercipta model sekolah yang berkarakter. Sehingga dengan demikian peran sekolah bukan hanya sekedar “pencetak ijazah” melainkan sebagai tempat trasformasi nilai-nilai luhur bangsa yang menyiapkan generasi penerus bangsa yang siap bersaing pada tataran lokal, nasional maupun global. Kedua, pada level keluarga, secara kodrati orang tua sebagai pendidik yang harus menjalankan perannya, karena ia merupakan orang yang diberi amanah oleh Tuhan untuk mendidik anak-anaknya. Sehingga tidak menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah dalam hal pembentukan karakter anak. Ketiga, pada level Negara, penyelenggara Negara sebagai penjelmaan Negara harus menjadi teladan bagi generasi muda, dan rakyat pada umumnya, dengan tidak melakukan penyalahgunaan kekuasaan dan kewenangan yang diberikan oleh rakyat. Dengan demikian, Negara tidak perlu membuat program seperti pada masa orde baru yakni P4 (Program penghayatan dan pengamalan Pancasila) untuk membangun dan menanamkan karakter ke-Indonesiaan yang terkristalisasi dalam sila-sila Pancasila. Sedangkan pada penegak hukum sebagai penjelmaan dari kekuasaan Negara hendaknya mampu menegakkan hukum dengan setegak-tegaknya tanpa pandang bulu sehingga dengan demikian akan tercipta masyarakat hukum yang juga taat pada hukum, semoga !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s