MUTU PENDIDIK (AN) Vs MUTU LPTK

MUTU PENDIDIK (AN)  Vs MUTU LPTK

Bulan Mei adalah bulan pendidikan di Indonesia . Maklum saja bulan Mei

tepatnya  setiap  tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Beragam acara diadakan untuk memperingati hari pendidikan tersebut, mulai dari upacara pengibaran bendera merah putih, lomba-lomba, olimpiade sains dan sebagainya.  Semua ini mudah-mudahan  bukan merupakan seremonial belaka, mengingat bangsa Indonesia senang sekali mengadakan seremonial.  Salah satu seremonial yang saya ikuti dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional adalah upacara bendera dan seminar nasional pendidikan  yang diadakan oleh FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.  Seminar mengusung tema : “ Masa depan LPTK dan Profesi Keguruan”. Seminar tersebut mengundang pakar-pakar pendidikan dan stakeholders sebagai pemateri.  Selain itu, peserta seminarpun terdiri atas pemangku kepentingan dan pihak-pihak yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan seperti para akademisi dan mahasiswa tingkat sarjana dan pascasarjana.

Seluruh pemateri sepertinya sepakat bahwa dunia pendidikan di Indonesia umumnya, khususnya di Banten perlu pembenahan yang serius.  Pembenahan tersebut bukan saja pembenahan di bidang sarana prasarana, kurikulum, manajemen sekolah dan perguruan tinggi melainkan juga pembenahan pada mutu pendidik dan Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK). Untuk yang terakhir ini, saya akan melakukan sebuah analisis.

Tema seminar di atas, yaitu “Masa depan LPTK dan Profesi Keguruan”  singkat untuk di hafal namun memiliki makna yang mendalam. Bagaimana tidak, tema tersebut ingin meramalkan masa depan sebuah “pabrik” yang akan menghasilkan tenaga pendidik (guru) dan tenaga kependidikan dan sekaligus ingin meramalkan masa depan profesi keguruan (outcome) dari LPTK. Sebagai bangsa yang berkembang, tentu kita memerlukan upaya memperbaiki mutu pendidikan nasional. Namun, mutu pendidikan nasional memerlukan perbaikan mutu “pabrik” penghasil guru/pendidiknya.  Kualitas pendidik  tentu dipengaruhi oleh kualitas pendidikan gurunya, kualitas pendidikan gurunya ditentukan oleh kualitas yang menghasilkan gurunya (LPTK).  LPTK yang berkulitas saja yang diyakini akan menghasilkan mutu guru yang juga berkualitas.  Pertanyaannya seberapa berkualitasnya LPTK-LPTK yang ada di Indonesia, khususnya di Banten?

Jika kita mencermati isi pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 alinea ke-4, disana tertulis dengan jelas bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.  Ini jelas sebuah rumusan tujuan nasional yang mulia dan sekaligus mengandung tantangan yang serius untuk mewujudkannya.  Menuliskan tujuan nasional tentu sulit, namun pasti lebih sulit untuk mewujudkannya.  Pada abad 21 ini sangat penuh persaingan dalam berbagai sendi kehidupan, oleh karenanya memerlukan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berkualitas. Oleh karena itu, pengembangan Sumber daya manusia merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional.

Pengembangan sumber daya manusia Indonesia menuntut peran LPTK sebagai penghasil tenaga pendidik dan kependidikan lebih professional. LPTK hendaknya mampu menjawab tantangan pendidikan di masa yang akan datang. LPTK jangan hanya dimaknai sebagai lembaga “pencetak” ijazah sarjana pendidikan,  mengingat di tangan sarjana pendidikan inilah masa depan pendidikan dipertaruhkan.  Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa kualifikasi akademik guru minimal sarjana (S1) atau Program Diploma IV yang sesuai dengan tugasnya sebagai guru. Konsekuensinya, guru yang sudah menduduki jabatan fungsional guru namun belum sarjana (S1) harus menyesuaikan diri.

Ada banyak cara yang ditempuh oleh para guru untuk menyikapi amanat Undang-Undang di atas, salah satu cara yang dilakukan adalah studi lanjut dan  up grading bagi guru yang sudah memiliki ijazah diploma II atau diploma III. Mereka melanjutkan studi ke jenjang sarjana (S1).  Namun yang harus menjadi bahan renungan bersama, apakah mereka memilih LPTK yang berkualitas dan kredibilitasnya baik?. Hal ini penting mengingat tidak semua LPTK itu baik (yang ditunjukkan oleh grade akreditasinya), bahkan ada juga yang masih proses akreditasi namun berani merekrut calon guru (mahasiswa) dengan jumlah banyak. Menjamurnya LPTK sampai ke pelosok kota kecamatan bahkan desa adalah hal yang perlu diapresiasi, namun masyarakat calon pengguna LPTK tersebut juga harus dilindungi dan diedukasi agar mereka tidak dirugikan dikemudian hari, jangan sampai sudah susah payah kuliah namun kompetensi dan ijazahnya tidak diakui.

Sebagaimana disinggung di atas, bahwa kualitas guru sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan gurunya (LPTK), karena seorang guru tidak saja hanya dituntut memiliki ijazah keguruan. Ia juga dituntut memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Untuk mendapatkan kompetensi-kompetensi tersebut tentu tidaklah semudah membalikan telapak tangan, apalagi dengan “sulap” ala pak Tarno.

LPTK sebagai penghasil sarjana pendidikan tentu harus bertanggungjawab dalam melahirkan guru-guru berkualitas yang memiliki berbagai kompetensi yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya yang agung sebagai pendidik.  Pendidik adalah profesi yang memerlukan kekokohan akidah, kedalaman kualitas spiritual, akhlak,  penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, guru juga harus memiliki minat, bakat dan ilmu untuk menjadi pendidik.  Tidak semua orang bisa menjadi pendidik, meski semua orang bisa mengajar.  Mungkin kebanyakan guru-guru kita hanya menjalankan tugasnya sebagai “pengajar” yang hanya melakukan aktivitas transfer of knowledge. Akibatnya, tidak jarang orang yang pandai secara akademik namun malah cacat secara moral, misalnya melakukan korupsi, dan sebagainya. Oleh karena itu, LPTK harus selektif dalam melaksanakan perannya. Untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas perlu dilakukan perbaikan pada saat rekruitmen calon mahasiswa, calon mahasiswa harus diseleksi secara ketat agar dihasilkan sarjana yang juga berkualitas. Selain itu, kurikulum, kualitas dosen, atmosfir akademik, sarana, dan budaya akademik yang dibangun juga harus mendukung lahirnya sarjana pendidikan yang handal secara intelektual dan memiliki kualitas akhlak yang baik.

Jika masih ada sarjana menganggur, mungkin ada banyak sebabnya. Namun jika sebabnya karena mutu LPTK nya buruk ini yang jadi masalah. LPTK harusnya mempersiapkan calon sarjana yang siap pakai, memiliki berbagai kompetensi yang diperlukan dalam lapangan pekerjaan. Kurikulum LPTK harus dirancang sesuai dengan kebutuhan pasar. Tanpa itu, maka tidak mustahil suatu saat angka pengangguran/angkatan kerja akan di dominasi oleh sarjana.

Sebagai penutup, untuk merespon  amanat undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan undang-undang nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen yang mengharuskan guru memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) tentu perlu dilakukan dalam koridor yang benar, tidak asal kuliah dan tidak asal sarjana.  Jika demikian, tentu tujuan nasional mencerdaskan bangsa dan visi pendidikan nasional untuk menjadikan manusia berkualitas tidak akan tercapai. Sebagai solusi untuk itu, diperlukan kehati-hatian dalam memilih LPTK yang berkualitas untuk menghasilkan calon guru yang juga berkualitas. Selain itu, LPTK yang ada harus berbenah diri dalam rangka meningkatkan layanan pada masyarakat dalam hal peningkatan standar sarana prasarana, mutu tenaga pengajar, kurikulum, strategi pembelajaran, sumber belajar, dan infrastruktur akademik lainnya. Tanpa kemauan yang sungguh-sungguh dari LPTK penghasil guru untuk memperbaiki diri, maka tidak heran suatu saat akan banyak sarjana pendidikan yang tidak bermutu, jika ini terjadi, maka pertanyaannya: mau dibawa kemana Republik ini?.  wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s