Mengapa FKIP Diminati ?

Mengapa  FKIP Diminati ?

 Tanggal 13 dan 14 Juni 2012 saya mendapat tugas untuk menjadi pengawas ruang pada seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) di kampus Untirta, secara tidak sengaja saya bertanya kepada beberapa peserta seleksi, baik yang di luar ruangan maupun yang di dalam ruangan ujian. Hasilnya, ada kecenderungan peserta seleksi memilih fakultas keguruan dan ilmu pendidikan yang lumayan banyak. Hal ini menguatkan dugaan saya, bahwa profesi guru mulai digandrungi.Buktinya di beberapa program studi yang ada di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan peminatnya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Contoh, di prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, mahasiswa tingkat tiga hanya ada 3 rombongan belajar, meningkat menjadi 7 rombongan belajar di tahun berikutnya (sekarang tingkat 2). Meningkatnya animo lulusan Sekolah Menengah untuk melanjutkan studi di fakultas keguruan tentu bukan tanpa sebab. Saya menduga hal  ini terkait dengan membaiknya “nasib” guru setelah orde reformasi digulirkan. Misalnya saja banyaknya regulasi yang berpihak pada dunia pendidikan, termasuk nasib para pendidiknya  melalui amandemen UUD 1945 pasal 31 ayat 4 yang menyatakan bahwa …sekurang-kurangnya 20% APBN dan APBD untuk sektor pendidikan. 

Selain itu, UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas, UU No. 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen serta PP No. 74 tahun 2009 Tentang guru. Melalui berbagai regulasi tersebut, profesi guru disejajarkan dengan profesi lainnya. Seorang guru diharuskan memiliki kualifikasi akademik sarjana strata satu (S-1), dan sertifikat pendidik sebagai pengakuan atas profesinya. Tidak hanya itu, bagi mereka yang sudah memiliki sertifikat pendidik, gaji pokoknya dibayar dua kali lipat. Bahkan guru yang belum pegawai negeri sipil asal sudah memiliki sertifikat pendidik, baik melalui portofolio maupu melalui pendidikan  dan latihan profesi guru (PLPG) akan mendapat gaji pokok sesuai pangkat dan golongannya. Hal ini tentu berbeda jika dibandingkan dengan PNS / Pegawai swasta untuk pangkat dan golongan yang sama pada instansi non pendidikan. Mungkin alasan praktis-ekonomis inilah yang mendorong orang tua maupun lulusan SMA/Sederajat untuk memilih masuk ke fakultas keguruan. Alasan ini tentu dapat dibenarkan, karena setiap warganegara berhak mendapat pekerjaan dan penghidupan yang layak. Yang menjadi persoalan adalah jika menjadi guru hanya karena ingin mendapatkan gaji besar tanpa diiringi oleh niat yang tulus, serta berbagai kompetensi yang dibutuhkan untuk seorang pendidik, mau dibawa kemana dunia pendidikan kita? Apalagi jika menjadi pendidik hanya sekedar “daripada tidak ada rotan akar pun jadi”. Ini sangat berbahaya, tentu dalam jangka panjang peradaban bangsa ini. Faktanya di lapangan, banyak sarjana non kependidikan yang memiliki status pekerjaan guru, baik PNS maupun Non PNS. Tentu secara hukum tidak ada masalah. Toh tidak ada aturan yang membatasi sarjana non pendidikan untuk menjadi guru, selama mereka memilki akta IV (yang kadang diperoleh dengan instan). Masalahnya adalah untuk menjadi guru itu tidak sekedar bisa menyampaikan materi kepada peserta didik. Proses pembelajaran bukan melulu aktivitas transfer of knowledge melainkan juga bagaimana melakukan transformasi nilai-nilai, afeksi dan life skill/psikomotor kepada peserta didik. Pendidikan sejatinya merupakan upaya memanusiakan manusia muda, agar mampu menghadapi masa depannya dengan baik. Oleh karenanya, mendidik memerlukan ilmu. Dan ilmunya ada di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Meski bisa saja semua orang menjadi pengajar, tapi belum tentu bisa menjadi pendidik. Pendidik yang baik harus memiliki sifat-sifat positif. Menurut Ad-Duweisy, (2011:61-73) sifat-sifat positif guru diantaranya: (1) ikhlas hanya kepada Allah, (2) taqwa dan ibadah, (3) mendorong dan memacu murid untuk giat mencari ilmu, (4) berpenampilan baik, (5) berbicara dengan baik, (6) berkepribadian matang dan terkontrol, (7) keteladanan yang baik, (8) memenuhi janji, (9) berperan memperbaiki sistem pengajaran, dan (10) bergaul secara baik dengan murid. Berdasarkan pendapat tersebut, jelaslah bahwa profesi guru bukan profesi yang bisa dilakukan oleh semua orang. Pendidik yang professional tentu harus memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidangnya. Tentu kita tidak pernah mendengar ada dokter yang professional tapi latar belakang akademiknya pendidikan akuntansi, atau sebaliknya seorang akuntan yang handal latar pendidikannya dokter. Oleh karena “membanjirnya” peminat masuk ke sekolah/fakultas keguruan dan ilmu pendidikan cenderung terus meningkat, maka sebaiknya Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) berbenah diri. Mulai dari proses penerimaan mahasiswa baru harus ada seleksi (input) yang ketat, peningkatan sarana pendukung pembelajaran, peningkatan mutu tenaga pendidiknya, kurikulum yang selalu disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan sebagainya. LPTK bukan hanya merekrut mahasiswa dalam jumlah yang banyak namun sarana penunjangnya tidak terstandar. Jika sarana prasarana pembelajaran di LPTK tidak terstandar, akibatnya akan lahir sarjana-sarjana pendidikan yang tidak bermutu. Jika para pendidiknya tidak bermutu, lalu bagaimana dengan mutu peserta didiknya? Dengan semakin sejahteranya guru, dan juga kebutuhan akan tenaga pendidik sampai dengan tahun 2015, masih kurang tenaga pendidik lebih 781.000 secara nasional (data Dirjen PMPTK 2009) dan taun 2010-2015 sekitar 311.000 guru untuk semua jenjang akan memasuki masa pensiun. Keadaan ini perlu direspon positif, tentu dengan tidak mengabaikan kualitas input, dan proses pembelajaran agar menghasilkan lulusan (output) yang berkualitas pula, semoga !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s