berhasil sekolah atau bimbel?

Dewasa ini semakin banyak bermunculan lembaga bimbingan belajar (bimbel) dengan berbagai “brand” dan strategi pemasarannya. Tidak hanya di kota-kota besar, bahkan sudah merambah ke pelosok–tentu kehadiran lembaga bimbel sah-sah saja. Hal ini Berdasarkan data Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan, pada 2012 tercatat sebanyak 13.446 lembaga kursus di Indonesia, 11.207 lembaga yang telah memilki izin operasi (83,35%). Jumlah peserta kursus mencapai 1.348.565. Peserta kursus tersebut terdiri atas siswa SD sampai jenjang pendidikan tinggi. Siswa pada jenjang SMA menempati urutan pertama yaitu sebesar 45,51%, kemudian diikuti tingkat pendidikan SMP sebesar 22,97%, SD 17,84%, S2/S3 sebanyak 10,11%. (http://ukskupibandung.blogspot.com)

Saat  menjelang Ujian Sekolah, Ujian Nasional, Seleksi Masuk Perguruan Tinggi, bahkan menjelang seleksi calon pegawai negeri sipil lembaga bimbel selalu dibanjiri peminat. Selain di bimbel, juga tidak sedikit orang tua yang mendatangkan guru privat ke rumah untuk memberikan bimbingan belajar intensif pada anaknya. Fenomena apakah ini? Apakah siswa tidak merasa cukup dengan pelajaran di sekolah dan guru nya? Atau orang tua tidak percaya pada kualitas guru dan sekolahnya? Jika lebih baik bimbel daripada sekolah, untuk apa sekolah?

Tentu semua sepakat, bahwa maju mundurnya sebuah bangsa  dapat diukur dari kualitas sumber daya manusianya. Ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, salah satunya  belajar pada pendidikan formal, informal, maupun non formal.  Sekolah  dengan berbagai jenjangnya, merupakan lembaga pendidikan formal yang memiliki peran penting dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat pembukaan UUD 1945. Sekolah merupakan sarana yang sengaja dirancang untuk melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran.  Sekolah harus menjalankan perannya dengan baik, peran tersebut misalnya sekolah mempersiapkan peserta didiknya memiliki  pengetahuan, keterampilan dasar , dan nilai-nilai luhur yang dibutuhkan untuk masa depan peserta didiknya.

Selain itu, sekolah sejatinya mampu menjadi tempat merubah nasib, mempersiapkan manusia sosial dan manusia pembangunan. Melalui pendidikan, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sukses, memiliki prestasi dan prestise. Namun, apa jadinya ketika sekolah tidak optimal dalam menjalankan peranannya?.

Berdasarkan tema di atas, penulis akan melakukan analisis tentang faktor-faktor  yang berkaitan dengan maraknya bimbel dan dugaan terjadinya disfungsi peran sekolah.  Faktor Pertama, Kualitas layanan sekolah dan guru. Jika peserta didik mengikuti bimbel (pendidikan non formal) yang diikuti di luar sekolah hanya sebagai pelengkap (pengayaan) pelajaran di sekolah itu tidaklah masalah. Namun jika banyak peserta didik yang mengikuti bimbel karena tidak puas dengan kualitas pembelajaran yang diberikan guru di sekolah dan fasilitas sekolah, ini yang jadi soal.  Jangan-jangan selama ini sekolah dan gurunya hanya menjalankan rutinitas proses pembelajaran yang asal-asalan, jika ini yang terjadi, maka akan menimbulkan rasa tidak percaya diri pada peserta didik untuk mengikuti berbagai tes atau seleksi. Dan untuk menutupi rasa tidak percaya diri ini akhirnya peserta didik memilih mengikuti bimbel. Dengan demikian sekolah harus mulai berbenah diri untuk melakukan perubahan dari berbagai aspek, baik sarana-prasarana, kurikulum, sumber belajar dan sebagainya. Selain itu, kualitas guru di sekolah juga harus di tingkatkan. Jangan sampai kualitas guru di sekolah “kalah” oleh kualitas mentor di lembaga bimbel. Mungkin saja mentor di bimbel sudah memiliki kualifikasi pendidikan strata dua (S2), guru-guru di sekolah mungkin masih ada yang diploma dua (D-II), oleh karenanya guru harus mau dan mampu meningkatkan kualifikasi akademiknya, apalagi ini merupakan tuntutan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (No. 20/2003).

Faktor kedua, metode pembelajaran yang digunakan guru di sekolah. Jika peserta didik merasa percaya diri mengikuti berbagai seleksi setelah beberapa minggu belajar di tempat bimbel, maka mengapa ia tidak percaya diri setelah enam tahun belajar (Sekolah Dasar) atau tiga tahun belajar (SMP/SMA/MA/SMK) ?. jawabannya mungkin saja metode belajar yang tidak tepat, sehingga peserta didik merasa sulit melakukan akselerasi dalam mengerjakan tipe-tipe soal tertentu. Jika ini yang terjadi, maka guru harus melakukan perubahan paradigma “mengajar” dan metode atau strategi dalam proses belajar dan pembelajarannya. Bila perlu,  guru di sekolah harus “belajar” ke tempat bimbel tentang bagaimana menggunakan strategi jitu agar peserta didik  memiliki strategi yang cepat untuk mengerjakan soal-soal yang sulit dalam waktu yang singkat. Jika guru-guru di sekolah tidak melakukan terobosan strategi pembelajaran yang tepat, jangan heran proses belajar yang dilakukan di sekolah selama bertahun-tahun tidak akan berkenan di hati para peserta didiknya, dan peserta didiknya merasa terkesan dan merasa bangga dengan lembaga bimbel yang dia ikuti.

Faktor ketiga, jumlah siswa yang terlalu banyak pada sebagian besar sekolah. Menurut saya, Kelas yang ideal hanya memiliki 15-25 siswa, dengan jumlah peserta didik yang terlalu banyak, guru sulit melakukan pendekatan individual dan menerapkan mastery learning bagi peserta didiknya. Jika ini yang terjadi, maka pihak terkait, harus melakukan upaya agar kelas-kelas di sekolah tidak lagi berorientasi jumlah atau daya tampung. Yang harus dipertimbangkan adalah bagaimana peserta didik dapat di “manage” sehingga menjadi lulusan yang kompeten, termasuk cakap mengikuti berbagai event seleksi.

Sebagai penutup, Penulis percaya, bahwa sekolah, guru dan orang tua peserta didik telah melakukan upaya terbaik yang bisa dilakukannya. Namun, jika sekolah hanya menjalankan perannya sebagai tempat mencetak ijasah, orang tua hanya mendukung dari segi doa dan dana, dan guru hanya “menggugurkan” kewajiban melaksanakan proses pembelajaran yang ala kadarnya, maka selama itu pula akan lahir lulusan-lulusan sekolah yang tidak bermutu. Sekolah dan guru tidak lagi akan dipercaya oleh masyarakat, khususnya peserta didik yang merasa tidak diberi layanan maksimal di sekolahnya (tidak berbasis mutu). Dan selama itu pula, lembaga bimbel tetap akan dijadikan alternatif yang jitu untuk menjembatani masa depan peserta didik untuk diterima dan mengikuti pendidikan di jenjang berikutnya. Jika peserta didik lebih memilih lembaga bimbel sebagai jawaban akan masalah-masalah layanan pendidikan dan pembelajaran yang kurang di sekolah, maka sekolah dan guru serta pemangku kebijakan di bidang pendidikan harus lebih banyak introspeksi diri dan berbenah untuk mempersiapkan generasi bangsa yang bertakwa kepada Tuhannya, berguna bagi bangsa dan negaranya untuk mengisi kemerdekaan. Melalui penyelenggaraan pendidikan yang berbasis mutu, diharapkan tidak ada lagi sekolah yang tidak mendapatkan siswa baru karena tidak mampu meluluskan siswanya dengan baik. Atau mampu meluluskan siswanya 100% dengan cara-cara koruptif dan manipulatif. Semoga !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s